GENERASI CERDAS BIJAK MENGGUNAKAN ANTIBIOTIK

Sejak penemuan antibiotik penggunaan antibiotik meluas pada kesehatan medis manusia, hewan dan tumbuhan. Antibiotika, yang pertama kali ditemukan oleh Paul Ehrlich pada 1910, yang disebut “magic bullet”, yang dirancang untuk menangani infeksi mikroba. Antibiotik merupakan bahan kimiawi yang dihasilkan oleh organisme seperti bakteri dan jamur, yang dapat mengganggu mikroorganisme lain. Biasanya bahan ini dapat membunuh bakteri (bakterisidal) atau menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) atau mikroorganisme lain. Beberapa antibiotik bersifat aktif terhadap beberapa spesies bakteri (berspektrum luas) sedangkan antibiotik lain bersifat lebih spesifik terhadap spesies bakteri tertentu (berspektrum sempit).

Antibiotik merupakan salah satu obat yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Namun demikian kesalahan dalam penggunaan antibiotik pun masih menjadi masalah.  Dari penelitian yang dilakukan di wilayah Surabaya diperoleh data profil penggunaan antibiotik menunjukkan bahwa 66% antibiotik tidak digunakan sesuai indikasi, 52% diperoleh dari swamedikasi, 3% diperoleh dari tempat yang tidak benar, 25% tidak tepat dosis, 91% tidak tepat frekuensi penggunaan, 37% tidak tepat penyimpanannya, dan 40% tidak patuh dengan jadwal minum antibiotik. Berdasarkan data hasil penelitian tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa 14 responden (14%) memiliki pengetahuan yang rendah, 66 responden (66%) memiliki pengetahuan yang cukup, dan 20 responden (20%) memiliki pengetahuan tinggi tentang antibiotik. Dengan demikian peningkatan pengetahuan tentang antibiotik masih perlu dilakukan, salah satunya adalah menguatkan peran apoteker dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang antibiotik. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutama terkait resistensi. Faktor penyebab meningkatnya resistansi terhadap antibiotik resistansi bakteri terhadap antibiotik muncul karena banyak mekanisme dan cenderung semakin rumit pendeteksiannya. Berbagai mekanisme genetik ikut terlibat termasuk di antaranya  mutasi kromosom, ekspresi gen – gen resisten kromosom laten, didapatkan resistansi genetik baru melalui pertukaran DNA langsung, atau melalui mekanisme yang disebut transformasi , transduksi dan konjugasi. Penyebab utama resistansi antibiotika adalah penggunaannya yang meluas dan irasional. Sekitar 80% konsumsi antibiotik dipakai untuk kepentingan manusia dan sedikitnya 40% berdasar indikasi yang kurang tepat, misalnya infeksi virus.

Selain karena tingginya angka penggunaan antibiotik, resistensi juga disebabkan karena penggunaan obat yang tidak rasional. Lebih dari 50 persen obat-obatan diresepkan, diberikan atau dijual tidak semestinya. Akibatnya, lebih dari 50 persen pasien gagal mengkonsumsi obat secara tepat. Padahal penggunaan obat berlebih, kurang, atau tidak tepat akan berdampak buruk pada manusia dan menyia-nyiakan sumber daya. Lebih dari 50 persen negara di dunia tidak menerapkan kebijakan dasar untuk mempromosikan penggunaan obat secara rasional (POR). Oleh karenanya, menjadi sebuah kewajiban untuk menggunakan antibiotik secara rasional, tepat, dan aman. Pemakaian obat dikatakan rasional apabila pasien menerima obat sesuai dengan indikasi penyakit, diberikan dengan dosis yang tepat, cara pemberian dengan interval waktu yang tepat, dan harga yang terjangkau (WHO, 2004).

Faktor lain yang mempengaruhi pemakaian antibiotik adalah tingkat pengetahuan pasien mengenai antibiotik dan penggunaannya. Kurangnya informasi selama pengobatan adalah salah satu alasan utama mengapa pasien salah menggunakan obat. Informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien karena informasi yang tidak sesuai berdampak pada rendahnya pengetahuan pasien sehingga menimbulkan ketidakpatuhan dalam terapi pengobatan (Akici et al, 2004). Oleh karena itu, dalam hal ini apoteker diharapkan dapat beperan aktif dalam memberikan informasi, konseling, dan edukasi kepada pasien secara individual ataupun kepada masyarakat secara umum (Kemenkes RI, 2011).

Upaya untuk menekan laju antibiotik perlu dilakukan sebab membuat antibiotik saja butuh waktu puluhan tahun, jika antibiotik tidak segera dikendalikan maka diprediksi akan menjadi pembunuh terbesar di tahun 2050. Upaya cara mencegah terjadinya resistansi bakteri terhadap antibiotik :

 1. Mendorong penggunaan antibiotik secara rasional ( antibiotik hanya diberikan untuk indikasi yang jelas)

 2. Mengurangi penggunaan yang tidak perlu, baik untuk profilaksis, maupun terapi, terakhir, proses seleksi antibiotik termasuk dosis, frekuensi, dan lama pemberian harus dilakukan secara lebih seksama untuk meningkatkan efektivitas antibiotik dalam menanggulangi inveksi

 3. Edukasi dan training pasien juga merupakan hal penting untuk dilakukan. Pesan akan diterima dengan baik apabila disampaikan oleh pemimpin lokal atau orang yang dianggap berpengaruh (Bisht et al, 2009). Pesan dapat disampaikan melalui berbagai media misalnya melalui iklan di televisi, radio, koran. Perlu disebarluaskan bahwa tidak semua jenis penyakit dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotik. Kalaupun perlu, pemakaian antibiotik harus sesuai dengan instruksi dokter baik dosis maupun rentang terapinya.

 4. Perlunya sosialisasi generasi muda sejak dini terhadap bahaya resistansi antibiotik melalui pembelajaran di kelas, kegiatan PMR, KIR, sosial media yang sering di akses oleh kalangan muda.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Design a site like this with WordPress.com
Get started